Langsung ke konten utama

Praktikum Mikrobiologi Fermentasi

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  TUJUAN PERCOBAAN
Untuk mengenalkan mahasiswa dengan beberapa pengujian biokimia yang digunakan untuk karakteristik dan identifikasi mikrobia.

1.2  DASAR TEORI
Escherichia coli merupakan bakteri indikator kualitas air minum karena keberadaannya di dalam air mengindikasikan bahwa air tersebut terkontaminasi oleh feses, yang kemungkinan juga mengandung mikroorganisme enterik patogen lainnya. Escherichia coli termasuk kelompok bakteri berbentuk batang aerob fakultatif gram negatif dengan tebal 0,5 μm, panjang antara 1,0 - 3,0 μm, berbentuk seperti filamen yang panjang, tidak berbentuk spora, bersifat Gram negatif. Escherichia coli merupakan salah satu kelompok bakteri yang dihindari kehadirannya dalam manusia. Bakteri E.coli yang bersifat patogen yaitu Bakteri Escherichia coli O157:H7. Manusia yang terpapar oleh kuman E.coli O157:H7 disebabkan oleh kontak langsung dengan hewan infektif atau akibat mengkonsumsi makanan seperti ikan, udang, daging, buah, sayur, air yang telah terkontaminasi serta susu yang belum dipasteurisasi. Kotoran manusia dan hewan merupakan sumber penularan E.coli O157:H7 terhadap manusia untuk dilakukam pendeteksian dengan gen stx1 untuk bakteri yang bersifat patogen (Anggriani, 2013).
Pengujian Biokimia (Uji IMVIC)
1) Uji Indol
Dari biakan NA Miring ditanam 1 sengkelit biakan kedalam tryptone broth. Diinkubasi selama 24 jam dengan suhu 37ºC, ditambahkan 0,2-0,3 ml pereaksi indol ke dalam masingmasing tabung, kocok dan didiamkan selama beberapa menit. Warna merah cherry pada permukaan membentuk cincin menandakan reaksi indol positif, warna jingga menunjukkan reaksi indol negatif (Nuria, 2006).
2) Uji Merah Metil
Dari biakan NA Miring ditanam 1 sengkelit biakan ke dalam pembenihan MR-VP. Diinkubasi selama 24 jam dengan suhu 37ºC. Setelah diinkubasi ditambahkan 5 tetes merah metil, dikocok dan didiamkan selama beberapa menit. Warna kuning menunjukkan reaksi negatif dan warna merah menunjukkan reaksi positif
(Nuria, 2006).
3) Uji VP (Voges Proskauer)
Dari biakan NA Miring ditanam 1 sengkelit biakan ke dalam pembenihan MR-VP. Diinkubasi selama 24 jam dengan suhu 37ºC. Setelah diinkubasi tambahkan 3 tetes larutan alfa naftol dan 2 tetes larutan KOH 40%, dikocok dan didiamkan selama beberapa menit. Warna merah muda sampai merah tua menunjukkan hasil positif, dan jika tidak berubah warna maka menunjukkan hasil negatif
(Nuria, 2006).
4) Uji Sitrat
Dari biakan NA Miring ditanam 1 sengkelit biakan ke dalam pembenihan Simmons Citrat, lalu diinkubasi selama 24 jam dengan suhu 37ºC. Warna biru menunjukkan hasil positif, warna hijau menunjukkan hasil negatif (Nuria, 2006).
Identifikasi bakteri meliputi pemeriksa-an morfologi, pewarnaan gram, dan uji biokimia antara lain : uji O/F, uji oksidase, uji katalase, uji motilitas, produksi indol, uji TSIA, LIA dan uji Cimmon’s citrate. Karakteristik biokimia bakteri A. hydrophila (Ulfafiana,2012).
Ciri fisiologi ataupun biokimia merupakan kriteria yang amat penting di dalam identifikasi spesimen bakteri yang tak dikenal karena secara morfologis biakan atau pun sel bakteri yang berbeda dapat tampak serupa, tanpa hasil pengamatan fisiologis yang memadai mengenai organik yang diperiksa maka penentuan spesiesnya tidak mungkin dilakukan. Karakteristik dan klasifikasi sebagian mikroba seperti bakteri berdasarkan pada reaksi enzimatik ataupun biokimia. Mikroba dapat tumbuh pada beberapa tipe media memproduksi tipe metabolit tentunya yang dideteksi dengan interaksi mikroba dengan reagen test yang mana menghasilkan perubahan warna reagen (Murray, 2005).
Suatu enzim adalah suatu katalis biologis. Hampir tiap rekasi biokimia dikatalis oleh enzim. Enzim merupakan katalis yang lebih efisien daripada kebanyakan katalis laboratorium atau industri. Enzim juga memungkinkan suatu selektivitas pereaksi-pereaksi dan suatu pengendalian laju reaksi yang tidak dimungkinkan oleh kelas katalis lain. Kespesifikan enzim disebabkan oleh bentuknya yang unik dan oleh gugs-gugus polar (atau non polar) yang teedapat dalam struktur enzim tersebut. Beberapa enzim bekerja bersama suatu kofaktor non protein, yang dapat berupa senyawa organik maupun anorganik (Lehninger, 1995).
Berikut beberapa uji biokimia yang digunakan untuk identifikasi bakteri antara lain:
1.        Indol
Media ini biasanya digunakan dalam identifikasi yang cepat. Hasil uji indol yang diperoleh negatif karena tidak terbentuk lapisan (cincin) berwarna merah muda pada permukaan biakan, artinya bakteri ini tidak membentuk indol dari tryptopan sebagai sumber karbon, yang dapat diketahui dengan menambahkan larutan kovaks seperti Ehrlich yang megandung para-dimetil-aminobenzaldehida
(Choirunissa, 2011).
2.        Uji gula-gula (Glukosa, Laktosa, Sukrosa dan Manitol)
Uji ini dilakukan untuk mengindetifikasi bakteri yang mampu memfermentasikan karbohidrat. Pada uji gula-gula hanya terjadi perubahan warna pada media glukosa yang berubah menjadi warna kuning, artinya bakteri ini membentuk asam dari fermentasi glukosa.
3.        Uji reduksi nitrat
Keberadaan nitrit dalam media diuji dengan penambahan asam sulfanilat dan α-naftilamin yang akan bereaksi dengan nitrit yang ditunjukkan dengan perubahan warna media menjadi merah atau merah muda. Pada tabung yang tidak menunjukkan perubahan warna, ditambahkan bubuk Zn untuk melihat reduksi nitrat menjadi nitrit. Bila didapatkan nitrat dalam medium, maka kaldu berubah warna menjadi merah muda atau merah karena Zn mereduksi nitrat menjadi nitrit dan nitrit ini bereaksi dengan reagen uji dan terbentuk warna merah
(Lay, 2004).
Eschericia coli memiliki sifat biokimia yaitu jika diinokulasi pada medium glukosa, laktosa, dan sukrosa dapat melakukan fermentasi dengan membeentuk asam dan gas. Eschericia coli juga dapat menghidrolisis amilum, pati, membentuk indol pada medium triptofan, dapat mereduksi nitrat, dan memfermentasi susu dengan menghasilkan asam. Bacillus subtillis jika diinokulasi dalam medium glukosa yaitu jika diinokulasi dalam medium glukosa dan sukrosa dapat membentuk gas, pada medium laktosa tidak dapat menghasilkan asam maupun gas. Bacillus subtillis tidak dapat membentuk indol pada medium triptofan, mereduksi nitrat, dan pada medium susu dapat melakukan fermentasi dan peptonasi (Breeds, 1957).
Escherichia coli tidak dapat melakukan hidrolisa pati, sementara  Bacillus subtilis dapat melakukan proses hidrolisis pati. Proses hidrolisa ini biasanya memecah suatu gula yang kompleks menjadi suatu susunan gula yang sederhana, untuk mendeteksi peristiwa ini dilakukan dengan cara pemberian iod. Iod biasanya akan bereaksi dengan pati dan akan berwarna biru. Hal ini menunjukkan bahwa tidak terjadi hidrolisa bila pati pun dapat bereaksi dengan iodium dan menghasilkan warna biru, hal ini dapat terjadi disebabkan oleh karena pati belum terpecah menjadi senyawa sederhana sehingga komponen yang bereaksi sengan iodium adalah pati (Robert, dkk 1959).
Aktivitas metabolisme tidak terlepas dari adanya enzim. Berdasarkan tempat bekerjanya, bakteri memiliki juga jenis enzim yaitu endoenzim dan eksoenzim. Endoenzim yaitu enzim yang berkerja dalam sel. Sistem endoenzim selain bersifat anabolik dapat juga bersifat katabolik.sedangkan eksoenzim yaitu enzim yang disekresikan ke luar sel dan berdifusi ke dalam media. Sebagian besar eksoenzim bersifat hidroliktik, yang berarti bahwa eksoenzim menguraikan molekul kompleks menjadi molekul yang molekul-molekul yang lebih sederhana. Molekul-molekul yang lebih kecil ini kemudian dapat memasuki sel dan digunakan untuk kepentingan sel. Sifat metabolisme bakteri dalam uji biokimia biasanya dilihat dari interaksi metabolit-metabolit yang dihasilkan dengan reagen-reagen kimia. Selain itu dilihat kemampuannya menggunakan senyawa tertentu sebagai sumber karbon dan sumber energi (Waluyo, 2004).
Karakterisasi dan klasifikasi sebagian besar mikrobia seperti bakteri berdasarkan pada reaksi enzimatik ataupun biokimia. Mikroba dapat tumbuh pada beberapa tipe media, memproduksi tipe metabolit tertentu yang dideteksi dengan interaksi mikrobia dengan reagen test yang menghasilkan warna reagen. Reaksi-reaksi dalam sel akan teridentifikasi dengan melakukan pengujian-pengujian tertentu. Sel akan memberikan respon sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya, misalnya menghasilkan enzim katalase, enzim gelatinase atau kemampuan untuk menghidrolisis lemak
(Pelczar 1986).

Beberapa uji biokimia yang dilakukan yaitu:
1. Uji Katalase
     Biakan murni diinokulasi ke dalam masing-masing tabung medium NA miring dan satu tabung untuk kontrol. Diinkubasi selama 48 jam. Setelah diinkubasi pada masing-masing tabung ditambhkan 2-3 tetes larutan H2O2 3% pada permukaan media, jika terjadi reduksi H2O2 akan terlihat adanya gelembung O2 di sekeliling pertumbuhan bakteri  

(Maida, 2011).
2. Uji Hidrolisis Gelatin
     Isolat bakteri diinokulasi ke dalam medium nutrien gelatin pada tabung reaksi secara aseptik diinkubasi pada suhu 37oC selama 24-48 jam. Kemudian kultur diletakkan pada pendingin dengan suhu 4oC selama 30 menit. Indikator pengamatan reaksi positif jika medium tetap menjadi cair, dan negatif apabila medium berubah menjadi padat. Hal ini menunjukkan bahwa bakteri mampu menghidrolisis gelatin sehingga medium tetap cair saat didiamkan pada suhu 4oC selama 30 menit (Maida, 2011).
3. Uji Indol
     Isolat bakteri diinokulasi ke dalam medium nutrien gelatin pada tabung reaksi secara aseptik, diinkubasi pada suhu 37oC selama 24-48 jam. Setelah diinkubasi ditetesi dengan 10 tetes reagen Kovac’s dan uji akan bernilai positif merupakan indikasi bahwa bakteri mampu memecah asam amoni tryptopan dengan pembentukan warna merah pada permukaan medium  (Maida, 2011)                                                    .
4. Uji Fermentasi Gula, H2S dan Gas dengan TSIA
     Isolat bakteri diinokulasi ke dalam medium TSIA dalam tabung reaksi secara vertikal pada bagian buut dan secara streak pada bagian slant. Diinkubasi pada suhu 37oC selama 24-48 jam dan diamati perubahan yang terjadi pada medium. Uji glukosa positif jika fenol merah menjadi kuning pada bagian bawah tabung reaksi, sedangkan pada bagian atas permukaan miring media (slant) berwarna merah. Uji laktosa atau sukrosa positif jika terjadi perubahan warna dari merah menjadi kuning pada permukaan miring media dan pada bagian bawah medium juga berwarna kuning. Indikator terbentuknya H2S dengan adanya warna hitam pada medium dan terbentuknya gas ditandai dengan pecahnya medium di bagian ujung bawah tabung reaksi (Maida, 2011).                                 .







BAB II
METODE PRAKTIKUM

2.1       Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Jumat, 10 April 2015, pukul 14.00–17.00 bertempat di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru.

2.2       Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah tabung reaksi, rak tabung, lampu bunsen, jarum inokulasi, dan shil.
Sedangkan bahan yang diguanakan pada praktikum ini adalaha biakan E.coli, biakan Staphylococcos aures, dan biakan Seratia marcescens, es batu, larutan H2O2 3%, media Tryptone Broth, media Triple Sugar Iron Agar (TSIA), media Nutrient gelatin, reagen Ehrlich

2.3       Prosedur Kerja
A.      Uji Katalase
1.      Mengambil satu ose biakan E. Coli kemudian di letakkan pada objek glass
2.      Meratakan biakan pada objek glass menggunakan ose
3.      Menetesi dengan reagen H2O2 3%
4.      Mengamati perubahan yang terjadi hasil positif menujukan terbentuknya gelembung-gelembungg
B.       Produksi Indol
1.        Mengambil satu ose biakan E. Coli
2.        Memasukan biakan kedalam media tryptone broth lalu diinkubasi selama 24 jam pada suhu 35-370C
3.        Menambahkan 0,5 ml reagen Ehrlich
4.        Mengamati perubahan yang terjadi hasil positif menunjukan cincin warna keungan
C.       Produksi H2S
1.        Mengambil satu ose biakan Seratia marcescens
2.        Menggoreskan biakan kedalam media Triple Sugar Iron Agar (TSIA) lalu di tusuk tegak pada agar
3.        Menginkubasi selama 24-48 jam pada suhu 30-350 C
4.        Mengamati perubahan yang terjadi hasil positif produksi H2S warna hitam disepanjang goresan dan tusukan
D.      Hidrolisis Gelatin
1.        Mengambil satu ose biakan E.coli dan S. aureus
2.        Memasukan biakan kedalam media nutrient gelatin
3.        Menginkubasi pada suhu 370 C selama 24-48 jam
4.        Mengamati perubahan yang terjadi hasil positif terhidrolisis (terbentuk cincin) tetapi media tetap membeku

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1       Hasil
Hasil yang diperoleh dari praktikum yang telah dilaksanakan, yaitu sebagai berikut :
Tabel 1. Hasil Dari Pengujian Katalase
No.
Bakteri
Gambar
Keterangan
1.
E. coli
Oval: AaOval: B
Negatif (-) tidak terbentuk gelembung O2
Keterangan :
a. Bakteri E. coli
b. Kontrol
2.
B. subtilis
Oval: AAOval: B
Negatif (-) tidak terbentuk gelembung O2
Keterangan :
a. Bakteri B. subtilis
b. Kontrol

3.
E. coli
Oval: AA
Uji katalase pada objek glass. Negatif (-) tidak terbentuk gelembung O2
Keterangan :
a. Bakteri E. coli + reagen H2O2 3%
4.
B. subtilis
Oval: AA
Uji katalase pada objek glass. Negatif (-) tidak terbentuk gelembung O2
Keterangan :
a. Bakteri B. subtilis + reagen H2O2 3%






Tabel 2. Hasil Pengamatan Produksi Indol
No.
Bakteri
Gambar
Keterangan
1.
E. coli
Oval: BOval: Aa
Negatif (-) tidak terdapat cincin merah keunguan
Keterangan :
a. Bakteri E. coli
b. Kontrol
2.
B. subtilis
Oval: AaOval: B
Negatif (-) tidak terdapat cincin merah keunguan
Keterangan :
a. Bakteri B. subtilis
b. Kontrol


Tabel 3. Hasil Pengamatan Produksi H2S
No.
Bakteri
Gambar
Keterangan
1.
Seratia Mercescent
Oval: BOval: Aa
Negatif (-) tidak terdapat warna hitam disepanjang tusukan
Keterangan :
a. Bakteri Seratia   Mercescent
b. Kontrol










Tabel 4. Hasil Pengamatan Hidrolisis Gelatin
No.
Bakteri
Gambar
Keterangan
1.
E. coli
Oval: BOval: Aa
Positif (+) bakteri dapat terhidrolisis (terbentuk cairan) tetapi media tetap beku
Keterangan :
a.       Kontrol
b.      Bakteri E. coli
2.
S. aureus
Oval: AaOval: B
Negatif (-) bakteri tidak terhidrolisis
Keterangan :
a.       Kontrol
b.      Bakteri S. aureus



3.2            Pembahasan
Pada praktikum ini dilakukan pengujian sifat biokimia pada bakeri yang bertujuan untuk mengenalkan mahasiswa dengan beberapa pengujiian biokimia yang digunakan untuk karakterisasi dan identifikasi mikrobia pada praktikum ini dilakukan beberapa uji yaitu : uji prouksi indol, uji produksi H2S, uji katalase, dan Hidrolisis gelatin.
Biokimia berasal dari kata bio artinya organisme hidup, sedangkan kimia adalah satu cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang perilaku dari bahan-bahan kimia. Ilmu Kimia juga menitikberatkan terhadap komposisi bahan dan sifat-sifat yang berhubungan dengan komposisi. Juga mengkonsentrasikan perbedaan interaksi senyawa satu dengan senyawa lainnya dalam reaksi kimia untuk membentuk zat-zat baru (Brady dan Humiston, 1986). Dengan demikian dapat digabungkan dua pengertian diatas bahwa Biokimia meliputi studi tentang susunan kimia sel, sifat senyawa serta reaksi yang terjadi di dalam sel, senyawa-senyawa yang menunjang aktivitas organisme hidup serta energi yang diperlukan atau dihasilkan
(Poedjiadi, 1994).
Ilmu Biokimia bertujuan mempelajari sifat zat kimia yang terdapat di dalam jasad hidup dan senyawa yang diproduksinya, mempelajari fungsi dan transformasi zat kimia serta menelaah transformasi tersebut sehubungan dengan aktivitas kehidupan (Girindra, 1993). Dari dua definisi Biokimia di atas, dapat disimpulkan bahwa ada, dua aspek, yaitu struktur senyawa dan reaksi antara senyawa di dalam organisme hidup. Dengan mempelajari struktur senyawa dan reaksi yang terjadi, sifat-sifat umum organisme hidup dapat dijelaskan secara rinci. Demikian pula faktor-faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi aktivitas kehidupan dapat diketahui, sehingga dapat dihindari terjadinya dampak lingkungan negatif.
Uji katalase digunakan untuk mengetahui aktivitas katalase pada bakteri yang diuji. Kebanyakan bakteri memproduksi enzim katalase yang dapat memecah H2O2 menjadi H2O dan O2. Enzim katalase penting untuk pertumbuhan aerobik karena H2O2 yang dibentuk dengan pertolongan berbagai enzim pernafasan bersifat racun terhadap sel mikroba. Bakteri katalase positif akan memecah H2O2 menjadi H2O dan O2 dimana parameter yang menunjukkan adanya aktivitas katalase tersebut adalah adanya gelembung-gelembung oksigen seperti pada percobaan yang telah dilakukan. Dengan enzim katalase, H2O2 diurai dengan reaksi sebagai berikut.
2H2O2 2H2O + O2

Hasil dari pengujian katalase pada percobaan ini adalah negatif karena bakteri tidak menghasilkan gelembung udara.
Produksi indol dilakukan dengan cara menginokulasi biakan murni E. coli dan B. subtilis  sebanyak 1 ose pada media Tryptone Broth (TB). Gunakan tabung yang berisi medium yang tidak diinokulasikan sebagai kontrol. Inkubasikan pada suhu 35 - 37oC selama 24. Tambahkan 0,5 ml reagen Ehrlich ke dalam tabung. Amati adanya indol yang diketahui dengan timbulnya cincin berwarna merah keunguan (purplish-red) pada lapisan atas permukaan media. Produksi indol digunakan dalam media untuk identifikasi yang mudah. Hasil uji indol untuk mengetahui bakteri ini membentuk atau tidak membentuk indol dari triptopan sebagai sumber karbon, yang dapat diketahui dengan menambahkan reagen Kovaks atau Ehrlich yang berfungsi sebagai indikator adanya atau tidaknya triptopan. Asam amino triptopan merupakan komponen asam amino yang lazim terdapat pada protein, sehingga asam amino ini dengan mudah dapat digunakan oleh mikroorganisme akibat penguraian protein. Uji produksi indol hasil yang didapatkan adalah negatif pada kedua bakteri (E. coli dan B. subtilis), ditandai dengan tidak adanya cincin merah keunguan pada lapisan atas permukaan media. Hal ini dikarenakan bakteri yang digunakan tidak dapat menghidrolisis senyawa triptofan menjadi senyawa indol.
Produksi H2S2 dilakukan dengan cara menginokulasikan masing-masing biakan Proteus sp. dan Staphylococus aureus kedalam medium TSIA miring sebanyak 1 ose dengan cara gores dan diakhiri dengan tusukan tegak. Inkubasikan selama 24 jam pada suhu 30 – 35oC. Amati terbentuknya H2S yang ditunjukkan dengan adanya warna hitam di sepanjang tusukan dan amati pula warna pada medium tersebut akibat fermentasi gula-gula dan adanya pembentukan gas. Penggunaan produksi H2S untuk mengetahui ada atau tidaknya terjadi suatu pemecahan asam amino untuk memproduksi H2S. Uji H2S mempunyai dua jalan fermentasi utama, yang dapat dilakukan oleh beberapa mikroorganisme dan hasilnya berupa hidrogen sulfida (H2S). Uji H2S pada jalan pertama, gas H2S yang dihasilkan oleh reaksi reduksi (hidrogenasi) dari sulfur organik yang menghasilkan asam amino sistein. Komponen itu diperoleh dari pepton yang pada medium. Pepton didegradasi oleh enzim mikrobia untuk menghasilkan asam amino sistein yang dibantu oleh suatu enzim sistein desulfurase. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut :
                                     CH2        SH     Sistein            CH3
                                                                        Desulfurae
                                 HC       NH2         C = O    +  H2S     + NH3
                                      
                                     COOH                                       COOH  
Uji H2S pada jalan kedua, gas H2S dihasilkan oleh reduksi senyawa sulfur anorganik seperti thiosulfat (S2O3). Medium yang mengandung sodium thiosulfat akan diubah menjadi sulfit oleh enzim reduktase dengan melepaskan H2S. H2S yang dilepaskan akan berikatan dengan Fe+ yang berasal dari ferrous ammonium sulfat akan berikatan membentuk ferrous hitam yang tidak dapat dipecahkan, endapan ini terlihat disepanjang tusukan atau inokulasi dan menunjukkan reaksi positif. Sebaliknya jika tidak terjadi perubahan apapun pada mikroba, maka akan menunjukkan reaksi negatif. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut :

3S2O3-  +  4H+e  thiosulfat  2SO3-  +  2H2S
                                                                                                 Reduktase
Uji produksi H2S hasil yang didapatkan adalah negatif pada kedua bakteri (Proteus sp. dan S.aureus), ditandai dengan tidak adanya warna hitam disepanjang tusukan. Media TSIA terdiri dari unsur iron (besi) dan glukosa. Apabila hasil yang didapatkan positif itu artinya bakteri dapat mereduksi unsur iron. Tetapi hasil yang didapat adalah negatif jadi bakteri tersebut tidak dapat mereduksi unsur iron. Bakteri dapat mereduksi glukosa dan mempengaruhi pH menjadi basa sehingga media berwarna merah.
Hidrolisis gelatin dilakukan dengan cara menginokulasikan masing-masing medium dengan biakan E. coli dan Staphylococus aureus sebanyak 1 ose. Gunakan tabung-tabung yang berisi Nutrient Gelatin (NG) sebagai kontrol. Inkubasikan pada suhu 37oC selama 24 jam. Menguji adanya hidrolisis dengan cara membenamkan tabung yang berisi biakan ke dalam es yang sedang mencair/potongan es. Amati kontrol dan gelatin yang  terhidrolisis akan tetap cair. Uji hidrolisis gelatin bertujuan untuk menentukan kemampuan suatu mikroorganisme membentuk enzim semacam proteolitik (gelatinase) yang dapat mencairkan gelatin, merupakan hidrolisis dari asam amino. Gelatin adalah protein yang diperoleh dari hidrolisis kolagen. Jika media memadat atau memebeku seluruhnya setelah pendinginan, maka tes menunjukkan negatif (bakteri tidak dapat mencerna gelatin). Jika media tetap cair pada permukaan atas setelah dilakukan pendinginan maka hasil percobaan tersebut positif (bakteri dapat mencerna gelatin). Reaksi dapat dituliskan sebagai berikut :
Gelatin    gelatinase    peptida-peptida kecil
                                                     Berwujud cair
Hasil yang didapatkan untuk hidrolisis gelatin adalah positif pada kedua bakteri (E. coli dan B. subtilis), ditandai dengan media mencair pada permukaan atas setelah dilakukan pendinginan. Artinya bakteri dapat menghasilkan enzim gelatinase yang mampu menghidrolisis gelatin dan mampu menghidrolisis pada suhu 20-80C.






BAB IV
PENUTUP

4.1                   Kesimpulan
Kesimpulan yang diperoleh dari praktikum ini adalah sebagai berikut :
1.        Uji katalase menggunakan bakteri E. coli dan B. subtillis hasil yang didapatkan adalah positif, ditandai dengan adanya gelembung-gelembung O2.
2.        Uji produksi indol menggunakan bakteri E. coli dan B. subtillis hasil yang didapatkan adalah negatif, ditandai dengan tidak adanya cincin berwana merah keunguan pada lapisan atas permukaan media.
3.        Uji produksi H2S menggunakan bakteri Proteus sp. dan S. aureus hasil yang didaptkan adalah negatif, yang ditandai dengan tidak adanya warna hitam pada sepanjang tusukan.
4.        Uji hidrolisis gelatin menggunakan bakteri E. coli dan S. aureus hasil yang didapatkan adalah positif, ditandai dengan media mencair pada permukaan atas. Yang artinya bakteri dapat menghidrolis gelatin karena menghasilkan enzim gelatinase.




DAFTAR PUSTAKA

Anggraini, Rina., M. Salim., dan E. Mardiah. 2013. Uji Bakteri       Esheresia coli Yang Resisten Terhadap Antibiotik        Pada Ikan Kapas-Kapas di Sungai     Batang Arau Padang. Jurnal Kimia Unand (ISSN No. 2303-3401), Volume 2.         Nomor 2.
Breed, R.S, E.G.D., Murray, U.R., Smith. 1957. Bergey`s Manual Determination   of Bacteriology, seventh edition. The Wiliams and Wilkins Company, USA.
Choirunnisa, A. A. 2011. Uji Biokimia.Waverly Press Inc. USA.
Lehninger. 1995. Dasar – dasar Biokimia, Jilid I. Erlangga. Jakarta.
Maida. 2011. Pengujian Fisiologis Dengan Reaksi Biokimia.Waverly Press Inc.      USA.
Murray. 1995. Biokimia Harper. EGC. Jakarta.
Pelczar. M.J dan Chan, E.C.S. 1986. Dasar-dasar Mikrobiologi. UI Press. Jakarta.
Nuria, Maulita.  Cut., A. Rosyid.,  Sumantri. 2006.  Uji Kandungan            Bakteri Escherichia coli Pada Air Minum Isi Ulang Dari Depot Air Minum Isi Ulang DI Kabupaten Rembang. jurnal    Faculty of Farmasi Gadjah Mada University Jogjakarta.
Oktarina, T. 2010. Pengujian Metabolisme Mikroba.Waverly Press Inc. USA.
Robert, S.B., E.G.D. Murray, L.R. dan Smith.1961. Bergey’s Manual of Determinative  Bacteriology. Waverly Press Inc. USA.
Ulfiana, Riris., G. Mahasri dan H. Suprapto. 2012. Tingkat Kejadian Aeromonasis             Pada Ikan Koi (Cyprinus carpio carpio) Yang         Terinfeksi Myxobolus koi       Pada Derajat Infeksi Yang Berbeda. Jurnal Ilmiah Perikanan dan     Kelautan, Vol. 4 No. 2.

Waluyo, L. 2004. Mikrobiologi Umum. Universitas Muhamadiyah Malang.
            Malang





Komentar

Postingan populer dari blog ini

 Mama Karya : Nyimas WR Kau Bidadari yang tak bersayap kau korbankan semua demi hidupku kau rela berikan nyawamu demi melahirkan aku sembilan bulan sembilan hari kau menjagaku dalam perutmu saat ku di lahirkan di dunia kau sambut aku dengan gembira saat kau melihat lahirnya diri ku seolah hilang semua bebanmu tulus dan ikhlas kau kasihi diriku selalu kau bimbing aku tanpa pernah engkau mengeluh meskipun kau penuh dengan peluh mama.. kau adalah pelita hidupku tanpamu tiadalah aku segunung hartaku tak akan cukup untuk membalas semua jasa-jasamu terimakasih mama..